Sabtu, 24 Desember 2011

Cerita sex Perselingkuhan Pengawal Pribadi

17

Cerita Dewasa kita this time tentang "Cerita sex Perselingkuhan Pengawal Pribadi", yang memang di perankan oleh tokoh yang telah berumur, Tokoh utama adalah Seorang wanita karir sukses bernama "Ibu Yuniar" yang di pindah tugaskan menjadi kepala kantor di sebuah Bank ternama di Kota Tanggerang - Banten. Sedangkan Tokoh yang notabene memiliki kemampuan ngentot Ruarr Biasa dan memiliki Kontol yang dibilang ga kecil adalah sebuah nama yang memang sengaja disamarkan ke-asliannya, Sebut lah namanya "Pak Tambunan", dimana Pak Tambunan ini adalah seorang petugas security yang di tugaskan Presedir Direktur atau atasan Ibu Yuniar untuk menjadi pengawal pribadinya.


Latar belakang keluargaku adalah dari keluarga Betawi yang terpandang. Sedangkan suamiku, sebut saja Gayus adalah seorang staf pengajar pada sebuah Universitas swasta di kota Tanggerang. Setelah suamiku menyelesaikan studinya di luar negeri, aku mengusulkan untuk mengajukan pindah ke kota Tanggerang - Bantern agar dapat berkumpul lagi dengan keluarga. Setelah melalui birokrasi yang cukup memusingkan ditambah sogok sana sogok sini akhirnya aku bisa pindah di kantor pusat di Kota Tanggerang. Pembaca tentu maklum bahwa pada jaman sekarang segala sesuatu harus pakai uang. Malahan kata orang Jakarta segala sesuatu harus bayar, dari makan hingga EE. Mungkin hanya buang gas (baca:kentut) saja yang belum perlu pakai uang.

Sebagai orang baru, aku tentu saja harus bekerja keras untuk menunjukkan kemampuanku. Apalagi tugas baruku di kantor pusat ini adalah sebagai kepala kantor. Aku harus mampu menunjukkan kepada anak buahku bahwa aku memang layak menempati posisi ini. Sebagai konsekwensinya aku harus rela bekerja hingga larut malam menyelesaikan tugas-tugas yang sangat berbeda saat aku bertugas dahulu. Hal ini membuatku harus selalu pulang larut malam karena jarak rumah kami dengan kantor yang cukup jauh yang harus kutempuh selama kurang lebih tiga puluh menit dengan mobilku. Sehingga aku jarang sekali bercengkerama dengan suamiku yang juga mulai semakin sibuk sejak karirnya meningkat. Praktis kami hanya bertemu saat menjelang tidur dan saat sarapan pagi.

Atas kebijakan pimpinan, aku selalu dikawal Security jika hendak pulang. Sebut saja namanya Pak Tambunan, Security yang kerap mengawalku dengan sepeda motor bututnya yang mengiringi mobilku dari belakang hingga ke depan halaman rumahku untuk memastikan aku aman sampai ke rumah. Dengan demikian aku selalu merasa aman untuk bekerja hingga selarut apapun karena pulangnya selalu diantar. Tak jarang aku memintanya mampir untuk sekedar memberinya secangkir kopi hingga suamiku pun mengenalnya dengan baik. Bahkan suamiku pun kerap kali memberinya beberapa bungkus rokok Gudang Garam kesukaannya.
Pak Tambunan adalah lelaki berusia 36 tahunan. Tubuhnya cukup kekar dengan kulit kehitaman khas orang Jawa. Ia memang asli Jawa dan katanya pernah menjadi preman di Pasar Jati Negara Jakarta. Ia sudah menjadi Security di bank tempat saya bekerja selama 8 tahun. Ia sudah beristri yang sama-sama berasal dari Jawa. Akupun sudah kenal dengan istrinya, Yu Surti.


Suatu hari, saat aku selesai lembur. Aku kaget saat yang mengantarku bukan Pak Tambunan, tetapi orang lain yang belum cukup kukenal.
"Lho Pak Tambunan di mana Bang?" tanyaku pada Security yang mengantarku.
"Anu Bu, Pak Tambunan hari ini minta ijin tidak masuk katanya istrinya melahirkan" katanya dengan sopan.
Akhirnya aku tahu kalau yang mengantarku adalah Pak Tono, Security yang biasanya masuk pagi.
"Kapan istrinya melahirkan?" tanyaku lagi.
"Katanya sih hari ini atau mungkin besok Bu" jawabnya.
Akhirnya hari itu aku pulang dengan diiringi Pak Tono.


*** Awal Perselingkuhan,
Sudah dua hari aku selalu dikawal Pak Tono karena Pak Tambunan tidak masuk kerja. Hari Minggu aku bersama suamiku memutuskan untuk menjenguk istri Pak Tambunan di Rumah Sakit Umum. Akhirnya aku mengetahui kalau Yu Surti mengalami pendarahan yang cukup parah atau bleeding. Dengan kondisinya itu ia terpaksa menginap di Rumah Sakit untuk waktu yang agak lumayan setelah post partum. Atas saran suamiku aku ikut membantu biaya perawatan istri Pak Tambunan, dengan pertimbangan selama ini Pak Tambunan telah setia mengawalku setiap pulang kerja.
Sejak saat itu hubungan keluargaku dengan keluarga Pak Tambunan seperti layaknya saudara saja. Kadangkala Yu Surti mengirimkan pisang hasil panen di kebunnya ke rumahku. Walaupun harganya tidak seberapa, tetapi aku merasa ada nilai lebih dari sekedar harga pisang itu. Ya, rasa persaudaraan! Itulah yang lebih berharga dibanding materi sebanyak apapun. Sering pula aku mengirimi biscuit dan syrop ke rumahnya yang sangat sederhana dan terpencil karena memang rumahnya di tengah kebun yang penuh ditanami pisang dan kelapa. Karena seringnya aku berkunjung ke rumahnya maka tetangga yang letaknya agak berjauhan sudah menganggapku sebagai bagian dari keluarga Pak Tambunan.


Suatu hari, saat aku pulang lembur, seperti biasa aku diantar Pak Tambunan. Begitu sampai ke depan rumah tiba-tiba hujan mengguyur dengan derasnya hingga kusuruh Pak Tambunan untuk menunggu hujan reda. Aku suruh pembantuku, Mbok Rasmi yang sudah tua untuk membuatkan kopi baginya. Sementara Pak Tambunan menikmati kopinya aku pun masuk ke kamar mandi untuk mandi. Ini memang merupakan kebiasaanku untuk mandi sebelum tidur.
Hujan tidak kunjung reda hingga aku selesai mandi, kulihat Pak Tambunan masih duduk menikmati kopinya dan rokok kesukaannya di teras sambil menerawang memandangi hujan. Hanya dengan mengenakan baju tidur aku ikut duduk di teras untuk sekedar menemaninya ngobrol. Kebetulan lampu terasku memang lampunya agak remang-remang yang sengaja kuatur demikian dengan suamiku agar enak menikmati suasana.


"Gimana sekarang punya anak Pak? Bahagia kan?" tanyaku membuka percakapan.
"Yach.. Bahagia sekali Bu..! Habis dulu istri saya pernah keguguran saat kehamilan pertama, jadi ini benar-benar anugrah yang tak terhingga buat saya Bu.."
"Memang Pak.. Aku sendiri sebenarnya sudah ingin punya anak, tetapi.."
Aku tidak dapat meneruskan kata-kataku karena jengah juga membicarakan kehidupan seksualku di depan orang lain.
"Tetapi kenapa Bu.. Ibu kan sudah punya segalanya.. Mobil ada.. Rumah juga sudah ada.. Apa lagi" Timpalnya seolah-olah ikut prihatin.
"Yach.. Itu lah Pak.. Dari materi memang kami tidak kekurangan, tetapi dalam hal yang lain mungkin kehidupan Yu Surti lebih bahagia"
"Mm maksud ibu.." tanyanya terheran-heran.
"Itu lho Pak.. Pak Tambunan kan tahu kalau saya selalu kerja sampai malam sedangkan Bang Gayus juga sering tugas ke luar kota jadi kami jarang bisa berkumpul setiap hari. Sekarang aja Bang Gayus sedang tugas ke Jakarta sudah seminggu dan rencananya baru empat hari lagi baru kembali ke Tanggerang"
"Yachh.. Memang itulah rahasia kehidupan Bu.. Kami yang orang kecil seperti ini selalu kesusahan mikir apa yang hendak dimakan besok pagi.. Sedangkan keluarga ibu yang tidak kekurangan materi malah bingung tidak dapat kumpul"


Matanya sempat melirikku yang saat itu mengenakan pakaian baby doll. Kulihat Kontolnya mulai naik turun melihat kemolekan tubuhku. Mungkin karena hujan yang semakin deras dan aku yang jarang dijamah suamiku membuat gairah nakalku bangkit.
Aku sengaja mengubah posisi dudukku sehingga pahaku yang mulus sedikit kelihatan. Hal ini membuat duduknya semakin gelisah, matanya berkali-kali mencuri pandang ke arah pahaku yang memang sengaja kubuka sedikit.
"Sebentar Pak saya ambil minuman dulu" kataku sambil bangkit dan berjalan masuk.
Aku sadar bahwa pakaian yang kukenakan saat itu agak tipis sehingga bila aku berjalan ke tempat terang tubuhku akan membayang di balik gaun tipisku.
"Oh ya Pak Tambunan masuk saja ke dalam soalnya hujan kan di luar dingin.."
"I.. Iya Bu.." jawab Pak Tambunan agak tergagap karena lamunannya terputus oleh undanganku tadi.
Jakunnya semakin naik turun dengan cepat. Aku tahu ia tentu sudah lama tidak menyentuh istrinya sejak melahirkan bulan kemarin, karena usia kelahiran bayinya belum genap 40 hari.
Suasana sepi di rumahku ditambah dengan dinginnya malam membuat gairahku bergejolak menuntut penuntasan. Apa boleh buat aku harus mampu menundukannya. Pak Tambunan sangat terangsang melihat penampilanku yang sangat segar habis mandi tadi. Akhirnya mungkin karena tidak tahan atau karena udara dingin ia minta ijin untuk ke kamar kecil.


"Eh.. Anu Bu.. Boleh minta ijin ke kamar kecil Bu"
"Silahkan Pak.. Pakai yang di dalam saja"
"Ah.. Enggak Bu saya enggak berani"
"Enggak apa-apa.. Itu Pak Tambunan masuk aja nanti dekat ruang tengah itu"
"Baik Bu.."
Sambil berdiri ia membetulkan celana seragam dinasnya yang ketat. Aku melihat ada tonjolan besar yang mengganjal di sela-sela pahanya. Aku membayangkan mungkin isinya sebesar tongkat pentungan yang selalu dibawa-bawanya saat berjaga.. Atau bahkan mungkin lebih besar lagi.
Agak ragu-ragu ia melangkah masuk hingga aku berjalan di depannya sebagai pemandu jalan. Akhirnya kutunjukkan kamar kecil yang bisa dipakainya. Begitu ia masuk aku pun pergi ke dapur untuk mencari makanan kecil, sementara di luar hujan semakin lebat diiringi petir yang menyambar-nyambar.


Aku terkejut saat aku keluar dari dapur tiba-tiba ada tangan kekar yang memelukku dari belakang. Toples kue hampir saja terlepas dari tanganku karena kaget. Rupanya aku salah menduga. Pak Tambunan yang kukira tidak mempunyai keberanian ternyata tanpa kumulai sudah mendahului dengan cara mendekapku. Napasnya yang keras menyapu-nyapu kudukku hingga membuatku merinding.
"Ma.. Maaf Bu, sa.. Saya sudah tidak tahan.." desisnya diiringi dengus napasnya yang menderu.
Lidahnya menjilat-jilat tengkukku hingga aku menggeliat sementara tangannya yang kukuh secara menyilang mendekap kedua Payudara ku. Untuk menjaga wibawaku aku pura-pura marah.
"Pak Tambunan.. Apa-apaan ini.." suaraku agak kukeraskan sementara tanganku mencoba menahan laju tangan Pak Tambunan yang semakin liar meremas payudaraku dari luar gaunku.
"Ma.. Af Bu Sa.. Saya.. Sudah tidak tahan lagi.." diulanginya ucapanya yang tadi tetapi tangannya semakin liar bergerak meremas dan kedua ujung ibu jarinya memutar-mutar kedua puting payudaraku dari luar gaun tipisku.


Perlawananku semakin melemah karena terkalahkan oleh desakan nafsuku yang menuntut pemenuhan. Apalagi tonjolan di balik celana Pak Tambunan yang keras menekan kuat di belahan kedua belah buah pantatku. Hal ini semakin membuat nafsuku terbangkit ditambah dinginnya malam dan derasnya hujan di luar sana. Suasana sangat mendukung bagi setan untuk menggoda dan menggelitik nafsuku.
Tubuhku semakin merinding dan kurasakan seluruh bulu romaku berdiri saat jilatan lidah Pak Tambunan yang panas menerpa tulang belakangku. Tubuhku didorong Pak Tambunan hingga tengkurap di atas meja makan dekat dapur yang kokoh karena memang terbuat dari kayu jati pilihan. Saat itulah tiba-tiba salah satu tangan Pak Tambunan beralih menyingkap gaunku dan meremas kedua buah pantatku. Aku semakin terangsang hebat saat tangan Pak Tambunan yang kasar menyusup celana dalam nylonku dan meremas pantatku dengan gemas.


Sesekali jarinya yang nakal menyentuh lubang anusku. Gila..!! Benar-benar lelaki yang kasar dan liar. Tapi aku senang karena suamiku biasanya memperlakukanku bak putri saat bercinta denganku. Ia selalu mencumbuku dengan lembut. Ini sensasi lain..!! Kasar dan liar.. Apa lagi samar-samar kucium aroma keringat Pak Tambunan yang berbau khas lelaki! Tanpa parfum.. Gila aku jadi terobsesi dengan bau khas seperti ini. Hal ini mengingatkanku pada saat aku bermain gila dengan Pak Sitor di kepulauan dahulu.
"Akhh.. Pakk.. Tambunannhh jangg.. Anhh" desahku antara pura-pura menolak dan meminta.
Ya harus kuakui kalau aku benar-benar rindu pada jamahan lelaki kasar macam Pak Tambunan.
Pak Tambunan yang sudah sangat bernafsu sudah tidak mempedulikan apa-apa lagi. Dengan beringas dan agak kasar digigitnya punggungku di sana-sini sehingga membuat aku menggeliat dan menggelepar seperti ikan kekurangan air. Apalagi saat bibirnya yang ditumbuhi kumis tebal seperti kumisnya Pak Raden mulai menjilat-jilat pantatku.
"Akhh.. Pakk.. Akhh.. Jang.. Akhh" kepura-puraanku akhirnya hilang saat dengan agak kasar mulut Pak Tambunan dengan rakusnya menggigiti kedua belah pantatku!!
Luar biasa sensasi yang kurasakan saat itu. Pantatku bergoyang-goyang ke kanan dan kiri menahan geli saat digigit Pak Tambunan. Mungkin kalau disyuting lebih dahsyat dibanding goyang ngebornya si Inul yang terkenal itu.
"Emhh.. Pantat ibu indahh.." kudengar Pak Tambunan menggumam mengagumi keindahan pantatku. Lalu tanpa rasa jijik sedikitpun lidahnya menyelusup ke dalam lubang anusku dan jilat sana jilat sini.
"Ouch.. Shh.. Am.. Ampunnhh" aku mendesis karena tidak tahan dengan rangsangan yang diberikan lelaki kasar yang sebenarnya harus menghormati kedudukanku di kantor. Aku benar-benar pasrah total.


Liang Memek ku sudah berkedut-kedut seolah tak sabar menanti disodok-sodok. Rangsangan semakin hebat kurasakan saat tiba-tiba kepala Pak Tambunan menyeruak di sela-sela pahaku dan mulutnya yang rakus mencium dan menyedot-nyedot liang Memek ku dari arah belakang. Secara otomatis kakiku melebar untuk memberikan ruang bagi kepalanya agar lebih leluasa menyeruak masuk. Aku sepertinya semakin gila. Karena baru kali ini aku bermain gila di rumahku sendiri. Tapi aku tak peduli yang penting gejolak nafsuku terpenuhi titik!
"Ouch.. Shh.. Terushh.. Ohh Pak Tambunanhh" dari menolak aku menjadi meminta! Benar-benar gila!!


Pantatku semakin liar bergoyang saat lidah Pak Tambunan menyelusup ke dalam alur sempit di selangkanganku yang sudah sangat basah dan menjilat-jilat kelentitku yang sudah sangat mengembang karena birahi. Aku merasakan ada suatu desakan maha dahsyat yang menggelora, tubuhku seolah mengawang dan ringan sekali seperti terbang ke langit kenikmatan. Tubuhku berkejat-kejat menahan terpaan gelora kenikmatan. Pak Tambunan semakin liar menjilat dan sesekali menyedot kelentitku dengan bibirnya hingga akhirnya aku tak mampu lagi menahan Birahiku.
"Akhh.. Pak Tambunannhh akhh.." aku mendesis melepas orgasmeku yang pertama sejak seminggu kepergian suamiku ini. Nikmat sekali rasanya.


Tubuhku bergerak liar untuk beberapa saat lalu akhirnya terdiam karena lemas. Napasku masih memburu saat Pak Tambunan melepaskan bibirnya dari gundukan bukit di selangkanganku. Lalu masih dengan posisi tengkurap di atas meja makan dengan setengah menungging tubuhku kembali ditindih Pak Tambunan. Kali ini ia rupanya sudah menurunkan celana dinasnya karena aku merasakan ada benda hangat dan keras yang menempel ketat di belahan pantatku. Gila panas sekali benda itu! Aku terlalu lemas untuk bereaksi.
Beberapa saat kemudian aku merasakan benda itu mengosek-kosek belahan kemaluanku yang sudah basah dan licin. Sedikit demi sedikit benda keras itu menerobos kehangatan liang kemaluanku. Sesak sekali rasanya. Mungkin apa yang kubayangkan tadi benar!! Karena selama ini aku belum pernah melihat ukuran, bentuk maupun warnanya! Tapi aku yakin kalau warnanya hitam seperti si empunya!!
Aku kembali terangsang saat benda hangat itu menyeruak masuk dalam kehangatan bibir kemaluanku.


"Hkk.. Hh.. Shh.. Mem.. Mekhh Bu.. Ren.. Ni benar-benar legithh.." Gumam Pak Tambunan di sela-sela napasnya yang memburu.
Didesakkannya batang kemaluannya ke dalam lubang Memek ku. Ouhh lagi-lagi sensasi yang luar biasa menerpaku. Di kedinginan malam dan terpaan deru hujan kami berdua justru berkeringat.. Gila.. Pak Tambunan menyetubuhiku di ruang makan di mana aku biasanya sarapan pagi bersama suamiku! Gaunku tidak dilepas semuanya, hanya disingkap bagian bawahnya sedangkan celana dalam nylonku sudah terbang entah kemana dilempar Pak Tambunan.
"Ouhh Pak Tambunann.. Ahh" aku hanya mampu merintih menahan nikmat yang amat sangat saat Pak Tambunan mulai memompaku dari belakang!


Dengan posisi setengah menungging dan bertumpu pada meja makan, tubuhku disodok-sodok Pak Tambunan dengan gairah meluap-luap. Tubuhku tersentak ke depan saat Pak Tambunan dengan semangat menghunjamkan batang Kontol nya ke dalam jepitan liang Memek ku! Lalu dengan agak kasar ditekannya punggungku hingga Payudara ku agak sesak menekan permukaan meja! Tangan kiri Pak Tambunan menekan punggungku sedangkan tangan kanannya meremas-remas buah pantatku dengan gemasnya. Tanpa kusadari tubuhku ikut bergoyang seolah-olah menyambut dorongan batang kemaluan Pak Tambunan. Pantatku bergoyang memutar mengimbangi tusukan-tusukan batang kemaluan Pak Tambunan yang menghunjam dalam-dalam.


Suara benturan pantatku dengan tulang kemaluan Pak Tambunan yang terdengar di sela-sela suara gemuruh hujan menambah gairahku kian berkobar. Apalagi bau keringat Pak Tambunan semakin tajam tercium hidungku. Oh.. Inikah dunia.. Tanpa sadar mulutku bergumam dan menceracau liar.
"Ouhmm terushh.. Terushh.. Yang kerashh.." Aku menceracau dan menggoyang pantatku kian liar saat aku merasakan detik-detik menuju puncak.
"Putar Bu.. Putarrhh" kudengar pula Pak Tambunan menggeram sambil meremas pantatku kian keras.
Batang kemaluannya semakin keras menyodok liang kemaluanku yang sudah kian licin. Aku merasakan batang kemaluan Pak Tambunan mulai berdenyut-denyut dalam jepitan liang kemaluanku. Aku sendiri merasa semakin dekat mencapai orgasmeku yang kedua. Tubuhku serasa melayang. Mataku merem melek menahan nikmat yang amat sangat. Tubuh kami terus bergoyang dan beradu, sementara gaunku sudah basah oleh keringatku sendiri. Pak Tambunan semakin keras dan liar menghunjamkan Kontol nya yang terjepit erat liang kemaluanku. Lalu tiba-tiba tubuhnya mengejat-ngejat dan mulutnya menggeram keras.


"Arghh.. Terushh buu.. Goyangghh.. Arghh.."
Batang Kontol nya yang terjepit erat dalam liang kemaluanku berdenyut kencang dan akhirnya aku merasakan adanya semprotan hangat di dalam tubuhku.. Serr.. Serr.. Serr.. Beberapa kali air mani Pak Tambunan menyirami rahimku seolah menjadi pengobat dahaga liarku. Tubuhnya kian berkejat kejat liar dan tangannya semakin keras mencengkeram pantatku hingga aku merasa agak sakit dibuatnya. Tapi aku tak peduli. Tubuhku pun seolah terkena aliran listrik yang dahsyat dan pantatku bergerak liar menyongsong hunjaman batang kemaluan Pak Tambunan yang masih menyemprotkan sisa-sisa airmaninya.


"Ouch.. Akhh.. Terushh.. Pak Tamm … bunannhhhhh.." tanpa malu atau sungkan aku sudah meminta Pak Tambunan untuk lebih kuat menggoyang pantatnya untuk menuntaskan dahagaku.
Akhirnya aku benar-benar terkapar. Tulang-belulangku serasa terlepas semua. Benar-benar lemas aku dibuat oleh Pak Tambunan. Kami terdiam beberapa saat menikmati sisa-sisa kenikmatan yang baru saja kami peroleh. Batang kemaluan Pak Tambunan kurasakan mulai mengkerut dalam jepitan liang kemaluanku. Perlahan namun pasti akhirnya batang kemaluan itu terdorong keluar dan terkulai menempel di depan bibir kemaluanku yang basah oleh cairan kami berdua. Gila banyak sekali Pak Tambunan mengeluarkan air maninya! Aku tahu itu karena banyaknya tumpahan sisa-sisa air mani dari lubang kemaluanku yang menetes ke lantai ruang makan.
"Ibu benar-benar hebat.. Saya jadi sayang ibu.." bisik Pak Tambunan di telingaku. Aku hanya diam antara menyesal telah melakukan kesalahan terhadap suamiku dan terpuaskan hasrat liarku.
"Su.. Sudah Pak.. Nanti Mbok Sarmi bangun" kulepas tangan Pak Tambunan yang masih memelukku.


Aku berusaha melepaskan diri dari jepitan tubuh Pak Tambunan yang kekar. Lalu aku bergegas ke kamar mandi dan membersihkan tubuhku. Sekali lagi aku mandi di malam yang dingin itu.
Aku keluar dari kamar mandi dan baru kusadari betapa kacaunya ruang makanku! Meja makanku sudah bergeser tak karuan sementara kulihat celana dalam nylonku terlempar ke sudut ruangan dekat kulkas. Pak Tambunan masih membetulkan celana dinasnya.
"Bu saya.. Boleh numpang mandi Bu.."
"Silahkan Pak.. Handuknya ada di dalam"
Aku mengambil kain pel dan membersihkan cairan sisa-sisa persenggamaanku dengan Pak Tambunan yang berceceran di lantai. Sementara itu Pak Tambunan mandi di kamar mandi yang baru saja kupakai.

 

Aku masih mengepel cairan sisa-sisa 'perjuangan' kami tadi yang masih menempel di lantai. Tanpa kusadari tiba-tiba Pak Tambunan yang hanya mengenakan handuk memelukku lagi dari belakang. Gila! Orang ini benar-benar bernafsu kuda!! Tubuhku diangkatnya dan hendak dibawa masuk ke kamar mandi.
"Jangan di situ Pak.." bisikku. Aku tidak mau bersetubuh di lantai kamar mandi yang dingin!! Bisa-bisa masuk angin nanti!!
"Ke kamar depan aja Pak.." Aku tahu tak mungkin aku menolak keinginan Pak Tambunan! Apalagi aku juga menyukainya.
Akhirnya tubuhku digendong ke kamar depan yang memang khusus untuk tamu bila ada yang menginap. Kamar tamuku fasilitasnya komplit sesuai standar rumah berkelas. Kamar tamuku dilengkapi tempat tidur spring bed, dan kamar mandi di dalam, serta AC!
Setelah menutup pintu kamar dengan kakinya, Pak Tambunan menurunkan tubuhku di lantai dan bibirnya mulai mencari-cari bibirku. Aku diam saja saat bibirnya menyedot-nyedot bibirku. Kumisnya yang tebal terasa geli mengais-ngais hidungku. Aku semakin geli saat lidahnya berusaha menyusup ke dalam mulutku dan mengais-ngais di dalamnya. Tanpa sadar lidahku ikut menyambut lidah Pak Tambunan yang mendesak-desak dalam mulutku.
Akhirnya kami saling pagut dengan liar dan menggelora. Aku sudah tak peduli kalai Pak Tambunan itu adalah anak buahku. Yang kutahu adalah nafsuku mulai bangkit lagi. Apalagi tangan Pak Tambunan mulai menyingkap gaun baby dollku ke atas dan melepaskannya melalui kepalaku hingga aku telanjang bulat di depannya! Gila aku telah telanjang bulat di depan anak buahku sendiri!! Aku memang belum sempat memakai celana dalam dan BH setelah mandi tadi. Lalu dengan sekali tarik Pak Tambunan melepas handuk yang melilit di pinggangnya hingga ia juga telanjang bulat di depanku!
Benar dugaanku! Ternyata batang kemaluannya berwarna hitam dengan rambut yang sangat lebat. Topi bajanya tampak mengkilat dan mengacung ke atas dengan gagahnya! Mungkin bila dijajarkan dengan pentungan yang biasa dibawanya ukurannya sedikit lebih besar!! Makanya tadi kurasakan betapa sempitnya liang Memek ku menjepit benda itu!!


Aku tidak sempat berlama-lama melihat pemandangan itu, karena sekali lagi Pak Tambunan menyergapku. Mulutnya dengan ganas melumat bibirku sementara tangannya memeluk erat tubuh telanjangku. Aku merasa kegelian saat tangannya meremas-remas pantatku yang telanjang. Aku semakin menggelinjang saat bibirnya mulai turun ke leher dan terus ke dua buah Payudara ku yang padat menjadi sasaran mulutnya yang bergairah!
Gila.. Liar dan panas! Itulah yang dapat kugambarkan. Betapa tidak! Pak Tambunan mencumbuku dengan semangat yang begitu bergelora seolah-oleh harimau lapar menemukan daging! Agak sakit tapi nikmat saat kedua buah Payudara ku secara bergantian digigit dan disedot dengan liar oleh mulut Pak Tambunan. Tanganku pun dibimbing Pak Tambunan untuk dipegangkan ke arah batang kemaluannya yang tegak.
"Ouch.. Shh.. Enakhh.." mulutku tak sadar berbicara saat lidah Pak Tambunan yang panas dengan liar mempermainkan puting payudaraku yang sudah mengeras.
Sambil masih tetap memeluk tubuhku dan menciumi payudaraku, Pak Tambunan duduk di pinggir tempat tidur. Dilepaskannya mulutnya dari payudaraku dan kembali diciuminya bibirku dengan ganasnya. Aku jadi terjongkok didepan tubuh telanjang Pak Tambunan yang sudah duduk di pembaringan, aku jadi berdiri di atas kedua lututku. Payudaraku yang kencang menjepit batang kemaluan Pak Tambunan yang hitam dan keras itu!
"Hh.. Sshh" Pak Tambunan mendesis saat batang kemaluannya yang besar dan hitam itu terjepit payudaraku.
Dipeluknya tubuhku dengan semakin ketat dan ditekankannya hingga payudaraku semakin erat menjepit batang kemaluannya. Aku merasa kegelian saat bulu-bulu kemaluan Pak Tambunan yang sangat lebat menggesek-gesek pangkal payudaraku. Apalagi batang kemaluannya yang keras terjepit di tengah belahan kedua buah payudaraku, hal ini menimbulkan sensasi yang lain daripada yang lain.
Aku tidak sempat berlama-lama merasakan sensasi itu saat tangan Pak Tambunan yang kokoh menekan kepalaku ke bawah. Diarahkannya kepalaku ke arah kemaluannya, sementara tangan satunya memegang batang kemaluannya yang berdiri gagah di depan wajahku. Aku tahu ia menginginkan aku untuk mengulum batang kemaluannya.
Tanpa perasaan malu lagi kubuka mulutku dan kujilati batang kemaluan Pak Tambunan yang mengkilat. Gila besar sekali!! Mulutku hampir tidak muat dimasuki benda itu.
"Arghh.. Ter.. Terushh buu.." Mulut Pak Tambunan mengoceh tak karuan saat kumasukkan batang kemaluannya yang sangat besar itu ke dalam mulutku.
Kujilati lubang di ujung kemaluannya hingga ia mendesis-desis seperti orang kepedasan. Tidak puas bermain-main dengan batang kemaluan itu mulutku bergeser ke bawah lidahku menyelusuri guratan urat yang memanjang dari ujung kepala kemaluan Pak Tambunan hingga ke pangkalnya. Pak Tambunan semakin blingsatan menerima layananku! Tubuhnya semakin liar bergerak saat bibirku menyedot kedua biji telor Pak Tambunan secara bergantian.
"Ib.. Ibu.. Heb.. Bathh.. Ohh.. Sshh.. Akhh".
Aku semakin nakal, bibirku tidak hanya menyedot kantung Pelir nya melainkan lidahku sesekali mengais-ngais anus Pak Tambunan yang ditumbuhi rambut. Pak Tambunan semakin membuka kakinya lebar-lebar agar aku lebih leluasa memuaskannya.
Beberapa saat kemudian tubuhku ditarik Pak Tambunan dan dilemparkannya ke tempat tidur. Aku masih tengkurap saat tubuh telanjangku ditindih tubuh telanjang Pak Tambunan. Kakiku dipentangkannya lebar-lebar dengan kakinya dan otomatis batang kemaluannya kini terjepit antara perutnya sendiri dan pantatku. Ditekannya pantatnya hingga batang kemaluannya semakin ketat menempel di belahan pantatku. Tubuhku menggelinjang hebat saat lidahnya kembali menyusuri tulang belakangku dari leher terus turun ke punggung dan turun lagi ke arah pantatku.
Tanpa rasa jijik sedikitpun, lidah Pak Tambunan kini mempermainkan lubang anusku. Aku merasakan kegelian yang amat sangat tetapi aku tidak dapat bergerak karena pantatku ditekannya kuat-kuat. Aku hanya pasrah dan menikmati gairahnya.. Seluruh tubuhku dijilatinya tanpa terlewatkan seincipun. Dari lubang anus, lidahnya menjalar ke bawah pahaku terus ke lutut dan akhirnya seluruh ujung jariku dikulumnya. Benar-benar gila!! Rasa geli dan nikmat berbaur menjadi satu.
Aku semakin mendesis liar saat mulut Pak Tambunan dengan liar dan gemas menyedot payudaraku bergantian. Kedua puting payudaraku dipermainkan oleh lidahnya yang panas sementara tangannya bergerak turun ke bawah dan mulai bermain-main di selangkanganku yang sudah basah. Liang Memek ku berdenyut-denyut karena terangsang hebat, saat jari-jari tangan Pak Tambunan menguak labia mayoraku dan menggesek-gesekkan jarinya di dinding lubang kemaluanku yang sudah semakin licin.
Sensasi hebat kembali menderaku saat dengan liar mulut Pak Tambunan menggigit-gigit perut bagian bawahku yang masih rata. Perutku memang rata karena aku rajin berlatih kebugaran selain itu aku belum mempunyai anak hingga tubuhku masih sempurna.
"Akhh.. Pak.. Ouchh.." aku mendesis saat bibir Pak Tambunan menelusuri gundukan bukit kemaluanku.
Lidahnya menyapu-nyapu celah di selangkanganku dari atas ke bawah hingga dekat lubang anusku. Lidahnya terus bergerak liar seolah tak ingin melewatkan apa yang ada di sana.
Tubuhku tersentak saat lidah Pak Tambunan yang panas menyusup ke dalam liang kemaluanku dan menyapu-nyapu dinding kemaluanku. Kakiki dipentangkannya lebar-lebar hingga wajah Pak Tambunan bebas menempel gundukan kemaluanku. Rasa geli yang tak terhingga menderaku. Apalagi kumisnya yang tebal kadang ikut menggesek dinding lubang kemaluanku membuat aku semakin kelabakan. Tubuhku serasa kejang karena kegelian saat wajah Pak Tambunan dengan giat menggesek-gesek bukit kemaluanku yang terbuka lebar. Perutku serasa kaku dan mataku terbeliak lebar. Kugigit bibirku sendiri karena menahan nikmat yang amat sangat.
"Akhh pakk.. Tambunannhh.. Ak.. Ku.. Ohh" aku tak kuasa meneruskan kata kataku karena aku sudah keburu orgasme saat lidah Pak Tambunan dengan liar menggesek-gesek kelentitku. Tubuhku seolah terhempas dalam nikmat. Aku tak bisa bergerak karena kedua pahaku ditindih lengan Pak Tambunan yang kokoh.
Tubuhku masih terasa lemas dan seolah tak bertulang saat kedua kakiku ditarik Pak Tambunan hingga pantatku berada di tepi tempat tidur dan kedua kakiku menjuntai ke lantai. Pak Tambunan lalu menguakkan kedua kakiku dan memposisikan dirinya di tengah-tengahnya. Kemudian ia mencucukkan batang kemaluannya yang sudah sangat keras ke bibir kemaluanku yang sudah sangat basah karena cairanku sendiri.
Aku menahan napas saat Pak Tambunan mendorong pantatnya hingga ujung kemaluannya mulai menerobos masuk ke dalam jepitan liang kemaluanku. Seinci demi seinci, batang kemaluan Pak Tambunan mulai melesak ke dalam jepitan liang kemaluanku. Aku menggoyangkan pantatku untuk membantu memudahkan penetrasinya. Rupanya Pak Tambunan sangat berpengalaman dalam hal seks, hal ini terbukti bahwa ia tidak terburu-buru melesakkan seluruh batang kemaluannya tetapi dilakukannya secara bertahap dengan diselingi gesekan-gesekan kecil ditarik sedikit lalu didorong maju lagi hingga tanpa terasa seluruh batang kemaluannya sudah terbenam seluruhnya ke dalam liang kemaluanku. Kami terdiam beberapa saat untuk menikmati kebersamaan menyatunya tubuh kami. Bibir Pak Tambunan memagut bibirku dan akupun membalas tak kalah liarnya. Aku merasakan betapa batang kemaluan Pak Tambunan yang terjepit dalam liang kemaluanku mengedut-ngedut. Kami saling berpandangan dan tersenyum mesra.
Tubuhku tersentak saat tiba-tiba Pak Tambunan menarik batang kemaluannya dari jepitan liang kemaluanku.
"Akhh.." aku menjerit tertahan. Rupanya Pak Tambunan nakal juga!!
"Enak Bu..?" bisiknya
"Kamu nakal Pak Tambunanhh.. Ohh"
belum sempat aku menyelesaikan ucapanku Pak Tambunan mendorong kembali pantatnya kuat-kuat hingga seolah-olah ujung kemaluannya menumbuk dinding rahimku di dalam sana. Aku tidak diberinya kesempatan untuk bicara. Bibirku kembali dilumatnya sementara kemaluanku digenjot lagi dengan tusukan-tusukan nikmat dari batang kemaluannya yang besar, sangat besar untuk ukuran orang Indonesia.
Setelah puas melumat bibirku, kini giliran payudaraku yang dijadikan sasaran lumatan bibir Pak Tambunan. Kedua puting payudaraku kembali dijadikan bulan-bulanan lidah dan mulut Pak Tambunan. Pantas tubuhnya kekar begini habis neteknya sangat bernapsu sampai-sampai mengalahkan anak kecil!! Tubuhku mulai mengejang.. Gawat aku hampir orgasme lagi. Kulihat Pak Tambunan masih belum apa-apa!! Ini tidak boleh dibiarkan.. Pikirku. Aku paling suka kalau posisi di atas sehingga saat orgasme bisa full sensation.
Lalu tanpa rasa malu lagi kubisikkan sesuatu di telinga Pak Tambunan, "Giliranku di atas sayang.." Gila! Aku sudah mulai sayang-sayangan dengan Security di kantorku!!
Pak Tambunan meluluskan permintaanku dan menghentikan tusukan-tusukannya. Lalu tanpa melepaskan batang kemaluannya dari jepitan liang kemaluanku ia menggulingkan tubuhnya ke samping. Kini aku sudah berada di atas tubuhnya. Aku sedikit berjongkok dengan kedua kakiku di sisi pinggulnya. Kemudian perlahan-lahan aku mulai menggoyangkan pantatku. Mula-mula gerakanku maju mundur lalu berputar seperti layaknya bermain hula hop. Kulihat mata Pak Tambunan mulai membeliak saat batang kemaluannya yang terjepit dalam liang kemaluanku kuputar dan kugoyang. Pantat Pak Tambunan pun ikut bergoyang mengikuti iramaku.
"Shh.. Oughh.. Terushh.. Buu.. Arghh..!" Pak Tambunan mulai menggeram. Tangannya yang kokoh mencengkeram kedua pantatku dan ikut membantu menggoyangnya. Gerakan kami semakin liar. Napas kami pun semakin menderu seolah menyaingi gemuruh hujan yang masih turun di luar sana. Cengkeraman Pak Tambunan semakin kuat menekan pantatku hingga aku terduduk di atas kemaluannya. Kelentitku semakin kuat tergesek batang kemaluannya hingga aku tak dapat menahan diri lagi. Tubuhku bergerak semakin liar dan kepalaku tersentak ke belakang saat puncak orgasmeku untuk yang kesekian kalinya tercapai. Tubuhku mengejat-ngejat di atas perut Pak Tambunan. Ada semacam arus listrik yang menjalar dari ujung kaki hingga ke ubun-ubun.

"Akhh.. Ohh.. Ter.. Rushh pakk.. Ohh" aku menjerit melepas orgasmeku meminta Pak Tambunan untuk semakin kuat memutar pantatnya.

Akhirnya aku benar-benar ambruk di atas perut Pak Tambunan. Tulang belulangku seperti dilolosi. Tubuhku lemas tak bertenaga. Napasku ngos-ngosan seperti habis mengangkat beban yang begitu berat. Aku hanya pasrah saja saat Pak Tambunan yang belum orgasme mengangkat tubuhku dan membalikkannya. Ia mengganjal perutku dengan beberapa bantal hingga aku seperti tengkurap di atas bantal. Kemudian Pak Tambunan menempatkan diri di belakangku. Dicucukkannya batang kemaluannya di belahan kemaluanku dari belakang. Rupanya ia paling menyukai doggy style. Aku jadi teringat SMS lucu dari kolegaku yang katanya, "Gaya seks paling ideal bagi orang berusia lanjut adalah gaya anjing.. Cukup diendus-endus saja!!" Kalau Pak Tambunan memang paling senang doggy style, katanya full imagination.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar